Latar Belakang Berdirinya Benteng Fort Rotterdam di Makassar

Update Wisata – Pergi ke Makassar tidak lengkap rasanya jika melewatkan sebuah bangunan tua yang megah yaitu Benteng Fort Roterdam atau yang awalnya bernama benteng Ujung Pandang. Namun dibalik kemegahan bangunan tersebut terdapat sejarah berdirinya benteng fort rotterdam di Makasar yang perlu kita ketahui.

Sejarah Berdirinya Benteng Fort Rotterdam di Makasar

Di bawah ini adalah Latar Belakang Berdirinya Benteng Fort Rotterdam di Makassar yang didapat dari beberapa sumber.

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang merupakan sebuah benteng peninggalan kerajaan Gowa-Tallo yang terletak di pinggir pantai sebelah barat Kota Makasar Sulawesi Selatan.

Benteng Fort Rotterdam (sumber: flickr.com)

Benteng yang dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke – 9 yang bernama (I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallona) awalnya berbahan dasar tanah liat yang dibakar hingga kering. Namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke – 14 (Sultan Alauddin) kontruksi benteng ini diganti menjadi batu padas hitam yang bersumber dari pegunungan Karst yang ada di Daerah Maros.

Benteng ini berbentung seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan, dilihat dari segi bentuknya jelas filsofi Kerajaan Gowa bahwa penyu mampu hidup di darat maupun di laut, begitu halnya dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Baca juga:

Sejarah dan Mitos Wisata Air Terjun Sedudo di Nganjuk Jatim

Mitos Pesugihan Gunung Kawi Malang Jawa Timur

Nama asli benteng ini adalah Ujung Pandang biasanya Orang Gowa-Makasar dahulu menyebutnya dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa.

Benteng ini pernah hancur pada masa penjajahan Belanda dipimpin oleh Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman yang pernah menyerang Kesultanan Gowa yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin sekitar tahun 1655 – 1669. Tujuan penyerbuan adalah untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah dan memperluas sayap kekuasaan untuk memudahkan mereka membuka jalur ke Banda dan Maluku.

Kerajaan Gowa – Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya pada tanggal 18 November 1667 yang salah satu pasalnya adalah mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Saat benteng ini ditempati oleh Belanda, nama benteng Ujung Pandang di ubah menjadi Fort Rotterdam.

Peta Bangunan Benteng Fort Rotterdam (Panyyua)

Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Sejak saat itu benteng Fort Rotterdam berfungsi sebagai pusat perdagangan dan penimbunan hasil bumi dan rempah-rempah sekaligus pusat pemerintah Belanda di Wilayah Timur Nusantara (Indonesia).

Saat ini, selain sebagai tempat wisata bersejarah, Benteng Fort Rotterdam ini juga dijadikan sebagai pusat kebudayaan Sulawesi Selatan.

Demikianlah ulasan mengenai sejarah berdirinya benteng Fort Rotterdam di Makasar, mudah-mudahan bisa menambah pengetahuan mengenai salah satu sejarah yang ada di Indonesia bagi para pembaca, terima kasih dan Semoga Bermanfaat.